Soal Seteru Itu

Disclaimer dulu ah. Saya mungkin belum bisa disebut blogger, saya tidak masuk dan mungkin tidak pernah bisa masuk ke dalam lingkaran apa yang mereka sebut blogger itu. Tapi toh itu tidak lantas menggugurkan hak saya buat waton nyangkem soal dunia blog-blogan itu. Soal nanti pada caci maki, ya resiko 😆

Belum lama ini saya dengar, para sesepuh dunia blog ada sedikit perbedaan tentang satu dan lain hal. Tak jarang, berujung dengan semacam perseteruan dan pembenaran atas jalan yang mereka pilih masing-masing. Sekali dua kali saling sindir dan senggol satu sama lain, tak bisa dihindarkan. Meskipun dengan segala alasan, mereka selalu bilang baik-baik saja dan tidak ada apa-apa diantara mereka. Tapi, suka atau tidak saya merasa tidak seperti itu adanya.

I’m holier than thou

Sekali lagi, suka atau tidak, atmosfer seperti ini sungguh berasa. Saling merasa bahwa jalan yang diambil lebih benar dari yang lain. Secara implisit tak jarang mereka bilang: ndak seperti itu. Harusnya seperti ini. Kamu keliru! Dasar keras kepala. Senggol-senggolan, kalau tidak boleh dibilang perseteruan perseteruan semacam ini terkadang sungguh terasa memuakkan.

Seberapapun mereka mengatakan tidak, saling senggol soal itu berasa sekali bagi cah biyasa yang tidak tahu apa-apa ini. Dan cah ra dong blass inipun menjadi bingung. Kepada siapa saya berma’mum.

Dan akhirnya, saya yang bahkan tidak tahu duduk perkaranya ini, sekedar mengingatkan. Ingatkah kalian dengan

Thamrin dan Soekarno

Mereka berdua sahabat karib, sama-sama bertujuan mulia. Memerdekakan Indonesia. Meskipun keduanya memilih jalan yang berbeda. Soekarno dengan jalur keras dan non kooperatifnya, dan Thamrin dengan jalur kooperatifnya melalui Volksraad. Dua jalan berbeda yang mereka tempuh itu saya percaya saling melengkapi dan mempercepat proses kemerdekaan Indonesia.

Saya tidak dapat membayangkan, seandainya dua sahabat itu justru sibuk saling sindir dan mencari pembenaran ataupun massa sendiri-sendiri. Dan sesekali berkilah bahwa mereka baik-baik saja. Apa iya Indonesia bisa merdeka di tahun 1945?

Soekarno atau Thamrin, mungkin sibuk mencari dukungan. Sibuk mencari massa, tapi bukan untuk mereka. Saya percaya mereka mencari massa untuk Indonesia.

Sudahlah

Jalan bolehlah berbeda. Itu pilihan. Atas segala pilihan itu, tiap orang mempunyai pertimbangan masing-masing kenapa mereka memilih jalan itu. Mereka tentu tahu, mana yang lebih mungkin buat mereka. Mau major atau indie, kooperatif atau non kooperatif, pesta, festival atau muktamar, dan mungkin yang agak baru dan masih anget. Asean blogger atau #ngopikere :mrgreen:

Alih-alih berkonfrontasi sesama kalian sendiri, kenapa tidak duduk bareng dan saling mendukung? Bukankah kita selalu bilang, beda itu biyasa?

Asu. Aku keseriusen. Kejiwaanmu lho Mid!

Hamid, bocah kemarin sore yang pengen jadi blogger.