Saya dan Stereo

Tulisan soal audio ini adalah rikuwes an temen saya, mas Wednes Yuda. Sodara beliau adalah seorang perencana perjalanan profesional. Bersama sang nyonyah, sodara beliau juga berdagang coklat yang percayalah, rasanya mak nyus! Ingin tahu lebih lanjut soal sodara beliau? Seorang penggemar audio, satu diantara temen saya yang (masih) tahu siapa itu Tjandra Ghozali? Silahkan berkunjung ke blognya, atau ikuti kicauannya.

Stereo, hal yang (tidak begitu) simpel

Saya bersyukur, dalam hidup saya, saya pernah mempunyai kesempatan untuk mendengarkan perangkat audio yang lumayan. Dan sampai saat ini, saya masih kagum dengan apa yang mereka bilang stereo biasa, dengan dua speaker di depan. Meskipun, dengan kombinasi banyak speaker di sekeliling kita, diperkuat dengan subwoofer untuk menambah kemantapan, Dolby, THX, dan bersurround-surround lainnya tentu lebih istimewa. Terasa lebih wow dan mantap terutama untuk film dan audio multi channel yang realistis.

Tapi, didalam hal musik, saya jauh lebih senang dengan stereo biasa tadi. Dengan konfigurasi 2.0 Three Way, atau 2.1 Two Way, saya merasa menjadi penonton, yang menikmati merdunya suara artis kesukaan saya, di depan saya.

Konfigurasi sederhana bukan? Tapi dibalik kesederhanaan itu terdapatlah kerumitan dan keribetan luar biasa. Untuk menghadirkan pengalaman maksimal berstereo –alah bahasanya, banyak hal yang tidak bisa dibilang simpel. Mulai dari sumber suara, tentulah butuh pemutar cd yang cukup mumpuni, dan sesuai selera. Karena percaya atau tidak setiap merk dan tipe pemutar cd akan menghasilkan suara yang berbeda. Bagi yang lebih menyukai menyimpan dalam bentuk file, tentu sebuah DAC –digital-analog converter yang yahud juga harus disiapkan.

Berlanjut ke hal yang menurut saya sangat penting, kalau tidak mau dibilang paling penting. Amplifier, yang bertugas memperkuat sinyal dari sumber suara untuk disalurkan ke speaker. Amplifier yang bagus, tentu akan menjaga sumber suara, dan memperkuat sinyalnya hingga kuat dan stabil untuk dikeluarkan ke speaker.

Dan darimana semua itu bisa dibedakan suaranya? Tentunya dengan speaker yang bagus pula. Sungguh percuma jika input bagus, pemrosesan bagus, tapi keluarannya biasa saja. Dan bagaimana pula speaker yang bagus itu? Kembali lagi masalah selera. Tapi, pada umumnya speaker yang bisa dibilang bagus adalah speaker yang mampu mengeluarkan suara dalam rentang pendengaran kita.

Dan… Masih ada beberapa hal (yang kelihatannya) remeh lagi tapi tidak kalah pentingnya, seperti soal kualitas kabel sebagai interkoneksi, soal ruangan yang ideal dan soal studio dan label perilisnya. Sepertinya belum akan saya bahas dulu disini. Karena nanti tulisan ini akan jadi panjang banget kek paper :mrgreen:

Eh, studio dan label perilis? Jadi bukan soal artisnya saja? Iya. Agak terkesan aneh memang, tapi itu sedikit banyak berpengaruh. Label pada umumnya memang merilis dengan rekaman yang bagus, tapi ada satu dua yang tidak cuma bagus, perfeksionis. Studio rekaman mereka tidak cuma memiliki alat-alat yang bagus, kru-kru mereka juga gendheng. Hal-hal sedetil berapakah volume masing-masing track juga mereka pikirkan. Misal, track vokal akan sedikit mereka perbesar dari track music, dan juga kanan akan sedikit lebih kencang dari kiri. Sedang musik akan lebih kencang di kiri, dan sedikit lebih kecil dari track vokal. Demi mendapatkan efek, penyanyi berada di depan dan pemain musik berada di sebelah kiri agak belakangnya. Salah satu yang saya tahu cukup sableng soal detil ini Sangaji Music. Di beberapa toko CD tersedia rilis an mereka, atau kalau sampeyan di Jakarta, mereka mempunyai beberapa toko di sana.

Simpel gak simpel

Ternyata, sesuatu yang simpel membutuhkan pengerjaan yang sama sekali ndak simpel ya? Apalagi kalau hasilnya mau dibilang istimewa. Dari mana saya tahu itu semua? Dari kesok tahuan saya yang kelewatan. Paling kalau ada yang ahli beneran baca tulisan ini bakal mengumpat-umpat 😆

Dan, Mas Yuda. Maap banget belum bisa bahas soal Nakamichi. Saya belum berksempatan cukup lama punya tape istimewa itu. Jadi wis agak-agak lupa. Kurang lama jadi kelas menengah ngehe nya :mrgreen: