Nelayan Yang Bahagia

Adalah julukan yang diberikan kepada saya oleh Almarhum Tasiman, salah seorang teman baik saya.

Sodara beliau adalah teman lama saya, yang dengan sombongnya mendahului saya menghadap Yang Maha Kuasa. Cukup lama kami berteman, saya cukup banyak tahu tentang dia, pun dia hampir tak melewatkan banyak hal tentang saya. Banyak hal kami lalui bareng. Ya ini, ya itu. Macam-macam.

Bang Tas, begitu saya biasa memanggilnya. Hapal betul dengan saya, tahu saya dari berbagai macam sisi dan keadaan. Mulai dari saya masih menjadi kelas menengah ngehe, kere, berusaha kembali jadi kelas menengah lagi, sampai jadi kere lagi. Dia ada ketika saya punya pacar, mulai dari yang rhemook sampai cukup wangun diajak kondangan. Maupun ketika saya berkali kali piyambakan.

Kata Bang Tas, hidup saya ndak jelas. Kadang tenang setenang tenangnya, kadang terombang ambing menakutkan. Kadang membawa hasil yang membanggakan, tapi tak jarang juga mbladhus ndak karuan. Seperti nelayan.

Keruwetan dan keabsurdan hidup saya toh kata dia tak mengurangi kadar kebahagiaan saya. Kata dia lagi, hal itu yang membuat dia senang berteman dengan saya.

Nelayan itu sekarang lebih sering murung

Bang Tas, sepertinya titel itu sudah tidak pantas untukku. Si nelayan ini lebih sering murung, sangat lain dengan apa yang dulu kamu tahu. Meski aku tetap menjadi nelayan, aku sepertinya tidak bisa tetap bahagia seperti kala itu.

Tapi Bang, kowe toh tidak bisa mencabut gelar itu dariku. Karena kowe sudah mudik mendahului aku. Sing aku bisa lakukan supaya gak mengecewakanmu ya cuma berusaha kembali seperti kala itu. Menjadi nelayan yang bahagia. Apapun keadaanya. Punya duit atau ndak, punya gandengan atau ndak. :mrgreen:

Ah iya, apa kabar Surga? Sudahkah kowe melukis suasana lebaran disana? Simpankan buatku, dan berikan padaku waktu aku nanti menyusulmu.

Hamid, yang sedang mengenang Tasiman di sebuah penghujung Ramadan.