Pakdhe Il dan Snack Sisa Rapat

Tersebutlah di suatu masa ketika saya kecil. Ketika istilah rapat belum tergantikan oleh meeting yang lebih ngelondho. Ada seorang saudara dari bapak, anak dari kakak simbah saya. Saudara itu akrab saya panggil dengan Pakdhe Il.

Pakdhe Il tinggal di desa Cangkringan, sangat jauh dari pusat kota Jogja. Yang berarti juga cukup jauh dari rumah saya kala itu, yang meskipun pinggiran, tidak jauh dari pusat kota. Pakdhe Il ini adalah salah satu pengurus Muhammadiyah, ormas yang cukup aktif terutama di Yogyakarta.

Sekali dua kali dalam sebulan, Pakdhe Il ini harus ke kota untuk mengikuti rapat ormas yang diurusnya. Setiap kali rapat, Pakdhe Il kadang menyempatkan diri mampir ke rumah bapak untuk sekedar ngobrol atau tanya kabar. Ada satu hal yang istimewa dari kedatangan Pakdhe Il ini. Selalu saja beliau tidak lupa membawakan saya snack atau makanan kecil konsumsi rapat beliau. Beliau rela tidak memakan snack rapat itu, untuk dibawakan kepada saya. Sebagai anak kecil, saya tentu dengan suka cita menerima pemberian Pakdhe Il tersebut. Dan bapak dengan tanpa bosan berkata hal yang hampir sama pada Pakdhe Il

“Oalah Mas, kok le repot-repot, hambok didahar wae. Malah digawakke nggo purunane”, dan Pakdhe Il pun menjawab:

“Ya rapapa ta dik, wong jeneng purunan.”

Kini, bertahun-tahun setelah kejadian itu, ketika saya tak lagi menjadi anak kecil, ketika Pakdhe Il mendahului saya dan bapak menghadap Gusti Pengeran. Saya pun teringat kembali akan kejadian-kejadian itu. Teringat akan Pakdhe Il yang rela tidak memakan snack rapatnya, hanya untuk diberikan kepada saya, purunan-nya. Hal yang sangat biasa saja di pikiran saya kala itu sebagai anak kecil.

Selamat jalan Pakdhe, hanya Gusti Pengeran yang bisa membalas kebaikan-kebaikanmu kepada Purunanmu ini. Bahagialah disana.