Balada Bis

Seorang teman, sebut saja Pakdhe Jauhari pernah berujar mengenai bis. Saya memang tidak mendengar langsung ujaran Pakdhe Jauhari itu. Ujaran itu sampai ke telinga saya karena di-rawi oleh teman baik saya Mas Aam. Begitu kurang lebih sanad nya. –Lho. Lhakok malah jadi kaya cah pondok :mrgreen:

Intinya begini, saya mendengar ujaran Pakdhe Jauhari itu tidak langsung, tapi bisa dibilang saya percaya kalau memang beliau pernah berujar demikian. Ujaran beliau itu kurang lebih mengandaikan sebuah keputusan, –dalam perkara ini keputusan hidup– dengan keputusan naik bis.

Kita mempunyai pilihan, kapan akan naik bis, darimana, dan bis apa yang akan kita naiki untuk menuju ke suatu tempat. Kita bisa memilih naik yang cepat sampai, ataupun memilih yang selow sambil menikmati pemandangan sekitar. Ekonomi, bisnis, atau eksekutif. Semua bisa dipilih. Pun dengan waktu keberangkatannya. Sekarang atau nanti. Apakah kita akan naik bis pertama yang lewat atau menunggu yang cocok. Dengan resiko kita tidak akan pernah naik bis karena menjadi terlalu pemilih, dan akhirnya malah kehabisan bis dengan tujuan yang kita mau.

Dalam perkara perjalanan saya, bukan saya tidak mau naik bis, atau menjadi linglung karena menunggu kereta di terminal. Perkara saya tidaklah segampang itu. Ada satu dua hal yang perlu saya selesaikan sebelum saya memutuskan untuk naik bis. Disamping itu, ongkos tiket juga belum sepenuhnya saya pegang. Tidaklah bijak kalau saya nekat naik dengan resiko diturunkan di tengah jalan karena ongkos yang kurang.

Lho? Ongkos kurang? Memang mau naik yang bagaimana?

Bigtop? Eksekutif? Oh tidak, saya sadar sepenuhnya kalau saya mungkin tidak akan mampu membeli karcis kelas itu. Bagi saya, ekonomi cukuplah, sambil sedikit berharap ketika akhirnya sampai waktu saya naik bis, akan menemukan bis ekonomi yang ber AC.

Dan ngomong-omong, yang lewat kok kelas bisnis terus yah? Makin kusut lah ini saya.

Hamid, yang kusut karena baru saja dibilang:

Mid, lu gak suka perempuan naik bis ya?