Semacam Surat Terbuka Juga

Sepertinya beberapa waktu ini lagi ngetren pada bikin surat terbuka ya? Ada yang buat capres, ada yang buat pemilik media, ada yang buat siapalah itu lagi. Demi mengikuti tren saya juga akan membuat semacam surat terbuka juga. Istilahnya biar ngeheits.

Saya tidak akan membuat surat terbuka buat capres atau timsesnya? Disamping saya sedikit apatis soal capres-capresan hingga memilih untuk tidak berpartisipasi aktif di perkara ini, saya juga ragu, kalau saya bikin surat terbuka semacam ini bakal dibaca oleh sesiapa –kata apa lagi ini–  yang saya tuju. Jadilah saya mau bikin semacam surat terbuka ini buat teman-teman saya saja. Ada yang mau baca sukur, ndak ya wes lah. Setidaknya tujuan surat saya ini tak muluk.

Hai Kawan,

Apa kabar? Kudengar satu dua diantara kalian sudah cukup sukses. Dengan mendapat penghasilan yang cukup bikin mlongo banyak orang, termasuk aku, yang bagi sebagian kalian sudah menjadi kawan cukup lama.

Kudengar diantara kalian sudah ada yang punya pendapatan bulanan melebihi umur kalian dalam juta. Bahkan ada yang dua kali, bahkan berkali-kali lipat dari itu. Kudengar kalian sudah sukses menjadi kelas menengah berkekuatan finansial lumayan. Beberapa diantara kalian bahkan sudah mulai kurang pantes disebut kelas menengah. Iya, kamu kamu kamu, konon bisa beli mobil tiap bulan kalau mau. Meski baru konon, aku tak bakal mempermasalahkan kekononan itu. Iri? Tentu saja, ha ha ha.

Tapi kalau boleh kawan, sejenak kita kesampingkan dulu soal keirianku ini. Kalau boleh, saya mengingatkan saja. Kalau ndak boleh atau ndak mau, ya apa boleh buat, ini blog-blogku, meskipun aku hosting ndak mbayar atas kebaikan seorang teman, tetap saja ini blogku. Tapi tetap, kalian punya hak untuk berhenti membaca. Dan sepertinya, kalian bisa mulai berhenti membaca disini kalau tidak setuju.

Kalaupun kalian masih baca

Dengan alasan apapun, dan entah kenapa juga kalian masih mau baca, kita bisa mulai ngelantur lagi. Sampai mana tadi? Oiya, sampe kalian yang sudah menjadi kelas berkekuatan finansial.

Sebenernya, sampai mana sih kalian akan merasa aman? Ketika aneka cicilan dan persiapan pendidikan (calon) anak-anak kalian nanti sudah terpenuhi, lalu apa lagi? Pengaktualisasian diri? Dari peminum kopi sachet berubah jadi kopi ningrat seperti Starbucks misalnya? Ndak ada yang salah dengan itu. Tapi, sekedar mengingatkan saja. Cukup tidak akan pernah menjadi benar-benar cukup. Suatu waktu, seratus ribu per hari itu sudah gede banget. Tapi kini, mungkin seratus ribu per hari bagi kalian sudah ternasuk irit.

Kalaupun kalian masih ngeyel mau baca sampai di titik ini, saya pengen bilang. Aku punya ide. Dan sebagaimana pemilik ide pada umumnya, secara sepihak ide ini tak klaim sebagai ide bagus. Brilian.

Pernah gak kepikiran?

Bagi kalian yang pendapatannya katakanlah yah, sudah sepantaran dengan umur kalian, pernah gak kalian kepikiran kalau seperlima dari pendapatan kalian sudah bisa memulai penghidupan baru bagi beberapa orang lainnya.

Enggak mahal, tiket jalan-jalan kalian ke Jepang PP sudah bisa bikin orang punya warung kaki lima. Biaya hedon kalian sebulan sudah bisa bikin orang buka warung rokok. Bagi kalian yang sedikit lebih agamis, biaya umroh atau wisata rohani kalian sudah bisa lho bikin orang buka warung makan. Dan hey, selalu ada kemungkinan dengan dibuka atau dimulainya suatu usaha, akan menjadikan usaha itu sebagai sumber penghidupan. Dan kalau semuanya lancar, bukan tidak mungkin akan menjadi besar, dan menciptakan kelas berkekuatan finansial, seperti kalian. Dan bukan berarti kalau sudah begitu secara kasar kalian bisa dibilang memerdekakan?

Tidak bisa dipungkiri juga kalau semua itu tidak akan selalu lancar. Usaha dan niat baik kalian bisa saja zonkBisa jadi, yang kalian bantu itu tidak berhasil, bangkrut, atau sukses dan malah melupakan kalian. Apa saja bisa terjadi. Gak selalu indah penuh warna seperti janji surga penggiat MLM abal-abal.

Tidak, aku tidak memaksa kalian.

Tidak, aku tidak memaksa kalian untuk meninggalkan kesenangan-kesenangan kalian, aku tidak meminta kalian menjadi semacam pilantropis atau apalah itu namanya. Kalian mampu kok, dan kalian layak mendapatkan kesenangan-kesenangan itu atas kerja keras kalian.

Dan juga, aku maklum, kalian tidak semuanya berada di kondisi yang memungkinkan. Karena lingkungan kalian yang rata-rata sudah kecukupan misalnya. Atau, kalian tidak tahu caranya bagaimana untuk memulai, atau apa sajalah. Intinya, kalian berada di posisi yang tidak atau kurang memungkinkan.

Tapi gini…

Alangkah bagusnya kalau ide yang secara sepihak aku anggap bagus ini kalian pertimbangkan. Bila suatu saat memungkinkan, bolehlah kalian jalankan. Toh seperti yang tak bilang sebelumnya, bagi banyak kalian, hal ini tidak mahal.

Wis ah, gitu wae.

 

Bantul, suatu hari di pertengahan Ramadhan

Hamid, yang bangga punya bermacam teman.