Muhammad NU

Konon besok adalah Idul Adha bagi beberapa yang memilih merayakannya hari Sabtu. Beberapa lagi, yang ikut versi pemerintah memilih merayakannya hari Minggu. Beberapa orang menyederhanakannya dengan versi Muhammadiyah, dan versi NU yang biasanaya merayakan di akhir. Meskipun tidak sepenuhnya tepat, tapi bolehlah kita anggap saja begitu.

Hal kecil semacam perbedaan pelaksanaan hari raya itu, kadang dibesar-besarkan oleh beberapa orang yang so called militan. Hal yang sebenere bukan masalah bisa jadi masalah. Minimal ejek-ejekan, sindir sindiran dan semacamnya. Hal yang sebenernya tidak perlu.

Saya bersyukur, hal semacam itu tidak terjadi di keluarga saya. Meskipun keluarga saya macem-macem ada yang menganut aliran tertentu, dan ada juga yang berbeda. Almarhum pakdhe saya misalnya, adalah pengurus Muhammadiyah yang sering sedikit berbeda pendapat dengan NU, sebuah ormas yang dianut oleh pakdhe saya yang lain. Kedua pakdhe saya itu tidak membesar-besarkan perbedaan pendapat dan tafsirnya. Mereka saling menghormati satu sama lain.

Di suatu kesempatan Idul Fitri yang berbeda hari pelaksanaannya, keluarga saya ikut merayakan keduanya. Bagi yang percaya kalau Idul Fitri belum saatnya tiba, biasanya mereka membatalkan puasanya dan menggantinya di lain hari. Jadi, masih tetap bisa turut merayakan dan berbahagia meskipun berbeda. Di hari Idul Adha macam ini, yang merayakan lebih dulu akan berkurban di hari esoknya. Karena toh esoknya masih hari tasyrik, hari dimana masih diperbolehkan untuk takbir dan melakukan kurban.

Tidak usah pakai ribut, jalani saja sesuai kepercayaan dan kemantepan masing masing, dengan tetap saling menghormati dan tidak saling menghakimi. tanpa setengahnya bilang, koe ki salah, sing bener ki aku!

Selamat Idul Adha dari kami penganut Muhammad NU, Muhammadiyah sekaligus NU.