Jogja Kudu Didol

Beberapa lama ini sedang ramai diperbincangkan perkara Jogja ora didol. Jogja berhenti nyaman dan berjogja-jogja lainnya. Uraian lengkap mungkin bisa dilihat di postingan blog salah satu teman saya ini.

Bagi saya sendiri, saya tidak sepenuhnya setuju dengan gera’an semacam Jogja ora didol ini. Bagi saya, Jogja justru kudu didol!

Lho? Kok sangat berbeda? Mau cari tenar dengan cara anti mainstream ya? Dibilang begitu juga boleh. Tapi sebelum saya dibilang begitu, kalau mau. Kalau mau ni… Saya tak ngomongke sebab e apa dulu Jogja kudu didol!

Jogja kudu didol!

Kalau tidak, andalan Jogja apa coba? Jogja ini ndak punya kekayaan alam berlimpah macam propinsi-propinsi di luar pulau Jawa. Tambang? Paling ya cuma mangaan dan pasir besi. Batu atau logam mulia? Sepertinya belum ditemukan. Seandainya sudah pun saya percaya skalanya kecil, sampai saya yang Wong Yoja sendiri ndak dengar perkara itu.

Jogja juga bukan Kalimantan Barat, Batam, atau justeru Singapura yang bisa menjual kestrategisannya untuk menambah pundi-pundi. Jogja ada di garis pantai laut selatan, yang ombaknya pun terkenal agak nggilani untuk ukuran kapal yang tidak biasa berlayar di pantai selatan. Ha njuk piye?

Sementara kalau ora didol, darimana orang-orang Jogja kebanyakan bisa dapet duid? Tidak semua berbakat ajaib dan menjadi seniman yang bagai tangan Midas, semua yang disentuh menjadi emas. Banyak orang-orang biyasa yang penuh perjuangan untuk sekedar menaikkan harkat diri, menaikkan kelas sosial untuk hidup dan penghidupan yang lebih baik.

Orang-orang kaya baru setelah Jogja didol

Kalau sampeyan-sampeyan pernah ke Jalan Imogiri, baik barat maupun timur, banyak sekali usaha-usaha baru yang menghasilkan orang-orang kaya baru, yang tak urung juga membawa manfaat bagi orang-orang di sekitar tempat usaha mereka. Tak kurang dari kerajinan kayu dan batu, box-box untuk bungkus dan pengiriman, sampai jasa tukang kirim via container atau freight forwarder. Semua itu bisa terjadi setelah “Jogja didol”.

Konon lagi, beberapa dekade lalu, di sebuah desa bernama Kasongan, banyak pengrajin gerabah yang hidupnya begitu-begitu saja, sampai seseorang yang bernama Saptohoedojo mengajari mereka “dodolan”

Bagi sampeyan-sampeyan yang sering main ke daerah Gabusan Manding atau Tembi, tentunya sampeyan tahu atau minimal pernah mendengar londho bernama Mister Warwick. Warwick Purser lebih tepatnya. Si Mister ini turut membangun Desa Tembi dengan caranya. Lagi-lagi dengan mengajari “dodolan”.

Kudu didol, ning piye adole?

Nah itu, lagi-lagi nek menurut saya lho ini. Jogja pancen kudu didol, mung piye adole, itu harus dipikirkan baek-baek. Apa dengan cara instan seperti sekarang? Membuka seluas-luasnya kesempatan buat investor tanpa mempedulikan warganya sendiri? Sampai ada istilah, nek mangsa udan ketiga angel cawike, nek mangsa rendeng angel ndodoke. Yang kurang lebih artinya: kalau musim kemarau susah ceboknya –karena kehabisan air, dan kalau musim penghujan susah jongkoknya –karena banjir dimana-mana.

Atau, seperti Saptohoedojo dan Mister Warwick, dengan memperbaiki satu dua hal lantas “memasarkan” hal-hal baik tentang Jogja. Pariwisata, seni budaya, apa sajalah. Dengan warga yang tetap merdeka dan jadi lebih kaya.

Hamid, membayangkan Jogja didol dengan manis seperti negara-negara tetangga.