Arsip Kategori: Grmbl Grmbl

Apatis

Menurut kateglo, apatis bisa diartikan sebagai acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh.

Begitulah mungkin yang sedang terjadi pada saya. Saya menjadi apatis. Terpaksa atau dipaksa? Saya pun kurang tahu. Sedikit yang saya tahu, saya apatis karena waktu dan keadaan, yang bersama mereka merger menjadi sebuah pengalaman.

Pengalaman kurang menyenangkan kah yang membuat saya apatis? Tentunya. Pengalaman yang menyenangkan pasti membawa orang ke sisi lain, bersemangat, meletup-letup. Bukan membawa ke sebuah apatisme. — bah, apa pula itu apatisme? Apakah dia bahkan sebuah kata?

Ini, itu, anu.
Ketika saya sedikit lebih muda, saya meletup-letup penuh semangat untuk ikut serta atau minimal mendukung satu dua hal, yang dalam idealisme dan imajinasi saya, tergambar sebagai sebuah hal baik, minimal menyenangkan.

Save ini, save itu, save anu. Komunitas ini, komunitas itu, komunitas anu. Wacana ini, itu, anu. Macam-macam itulah. Selalu saya berusaha untuk ikut didalamnya. Minimal mendukung dan menyebarkan apa yang menjadi tujuannya. Tidak peduli saya mendapat apa atau justru kehilangan apa. Semua saya jalani dengan sukacita –halah. Tapi itu beberapa waktu yang lalu. Kini? Saya, apatis.

Ayo bikin ini, bikin itu, jalanin ini, biar begitu. Ajakan-ajakan semacam itu dengan apatisnya saya lewatkan. Bahkan, sekali dua kali saya berburuk sangka. Siapa lagi ni yang coba cari untung?

Suatu Senja di Musim Duren: Sebuah Tinjauan Tentang Imbal Balik Dalam Pergaulan Masyarakat Modern

Lupakan judulnya! Kenapa? Saya juga tidak paham. Dan itu cuma secocot cocotnya saya saja. Jangankan sampeyan, saya yang nyocot saja ndak paham.

Lalu apa maksud dan tujuan saya bikin tulisan ini? Seperti biasa, ndak lebih dari semacam katarsis, penumpahan apa yang saya rasakan. Ndak menarik memang, lebih menarik susu yang tumpah karena beha push up. Bukan tumpahan perasaan apalagi kekesalan.

Potensi dan peluang, alasan untuk tidak ditinggalkan.

Pernahkah kalian mendengarkan

Oh, itu bisa nih diginikan, bisa tu diajak begini terus dimanfaatkan itunya. Nanti kita bisa begini begini atau begitu begitu.

Atau

Kerjasama sama dia wae, soale begini begini, nanti kan bisa begini. Gampanglah.

Sering yah? Dan apa yang terjadi ketika kalian sudah tidak bermanfaat lagi. Kalian jadi ndak asik. Ndak cool. Mending jauh-jauh, ndekati semua yang lebih berpotensi, lebih bisa dimanfaatkan. Dan barulah kalian didatangi lagi kalau kalian sudah menjadi satu-satunya orang yang kembali menerima pertemanan meski dalam hati sebenarnya penuh umpatan.

Asas manfaat, dasar hubungan masyarakat modern kekinian

Masyarakat yang sering dicap modern ini memang tak jarang kejam. Ketika sampeyan (dianggap) bermanfaat, sampeyan digadang-gadang. Selalu ada pembenaran atas kesalahan sampeyan. Tapi ketika sampeyan sudah menjadi ampas? Paling cuma dianggap ada. Itupun masih mendingan.

Lalu, bagaimana kita bertahan? Paling gampang, jadilah sukses, orang sukses tak pernah salah. Atau jadilah bermanfaat, kalaupun itu tak bisa, jadilah tampak bisa dimanfaatkan. Jadilah panjatan, atau kalau kalian sudah dibawah, relalah jadi pijakan. Niscaya, kalian akan dianggap menyenangkan. Kalau tidak bisa? Lupakan!

Hamid, seseorang yang merasa gagap dalam pergaulan modern kekinian.

No Post November

Judul yang sangat keminggris ya? Sudah gitu diragukan kebenaran Inggris nya. Ben! Sing penting itu tampak menyenangkan di telinga saya, istilahnya semacam berima.

Lalu apa maksudnya judul itu?
Maksude ya… Ternyata saya hampir ndak posting blass di bulan November! Hanya satu pun sebuah aside, yang sebenere lebih bersifat surhat yang kelepasan. Duh!

Desember ketoke aku kudu nulis (meneh)…

Menjadi Kidal

Hari ini, entah untuk berapa lama, saya menjadi kidal. Semacam pengalaman baru.

Koo bisa? Jadi begini ceritanya, semalem sewaktu jalan pulang dari pura pura ketemuan bahas kerjaan sama #dyx, terjadi hal yang kurang mengenakkan.

Di Jalan Solo depan Ambarukmo plaza, sebuah motor Plat R ngerem mendadak di tengah jalan tanpa alasan macam dia itu ponakannya Sultan Jogja. Suka suka udelnya tanpa minggir dulu atau gimana. Asu tenan.

Jadilah saya nabrak dia dari belakang. Dan kamipun sama sama jatuh. Tangan kanan saya gunakan buat menyangga jatuhnya. Jadilah njarem dan ndabisa dipake berkegiyatan.

Menyebalkan memang. Tapi ada dua hal yang patut disyukuri. Syukur belakang saya ndak ada kendaraan gede, dan menyenangkan melihat perubahan ekspresi seseorang dari tengil setengah mati jadi memelas sepenuh hati. Sambil menunjukkan di dompetnya tinggal puluhan ribu dua dan satu lima ribuan.

Hamid, yang nulis blog pake tangan kiri, serta misuh dalam hati karena mesti beli kacamata lagi.

Brisik!

Brisik mid, brisik!

Begitu kata significant other saya. Kepada saya yang akhir-akhir ini banyak bertanya kenapa begini, kenapa begitu. Kok begini, kok begitu. Dan tak jarang beberapa kali berujung keluhan.

Sekali dua kali keluhan itu tertumpah di blog ini. Ditulis dengan sedikit bumbu kemarahan dan kedongkolan, jadilah beberapa tulisan terakhir sama sekali gak enak dibaca. Setidaknya menurut si significant other saya itu. Yang langsung bilang kepada saya:

Brisik!

Bahkan tanpa e, dan ditambah dengan tanda seru.

Baiklah, sepertinya saya mesti menumpahkan sesuatu yang tidak terlalu menyebalkan. Bahkan kalau mungkin menyenangkan.

Ada ide ngomongin apa? 😀

Perkara Rindu

Iya, saya sedang rindu. Rindu akan sesuatu. Sayangnya, kali ini lagi-lagi bukan soal seseorang.

Saya rindu teman-teman. Sederhana saja. Saya rindu ngumpul. Bertemu teman-teman. Ngomongin hal remeh temen nan tidak penting. Bukan ngomongin hal yang serius, tentang pencapaian, pekerjaan, ketidakcocokan, atau tentang kekaguman terhadap seseorang. Yang seringkali, sayapun tidak tahu atau tidak mau tahu siapa dia.

Ah iya. Saya juga rindu bertemu teman. Benar benar bertemu. Bukan kebetulan bertemu meski pakek janjian. Pertemuan macam apa itu ketika semua pegang gadgetnya masing masing ataupun (tetep) ngobrol soal hal onlen onlenan? Mending dirumah saja ngobrol onlen, messengeran, socmedan, atau imel imelan.

Ini Aku, Dan Itu Teman-Temanku

Hae, kamu sudah tahu aku cukup lama kan?

Iya, ini aku, dan itu teman-temanku. Sama ndak jelasnya sama aku. Sebagian, ndak jauh beda kerenya sama aku. Pun sebelas duabelas wagunya sama aku. Kalaupun ada satu dua yang sedikit melek, mungkin mereka khilaf, atau terlalu iseng saja.

Aku dan teman-temanku yang wagu itu, hampir ndak ada yang terkenal, ndak ada yang luar biasa dari mereka terutama kalau sudah ngomongin prestasi yang sering menjadi acuan.

Kamu selalu boleh kok untuk sedikit alergi sama aku dan teman-temanku yang wagu itu. Selalu boleh menjadikan aku dan teman-temanku prioritas terakhir yang baru diingat dan didatangi kalau tak ada pilihan lain lagi.

Hidup itu pilihan bukan? Aku tidak bisa memaksakan aku dan teman-teman waguku untuk selalu kamu tengok atau kamu pedulikan. Apalagi ketika kamu masih punya belasan pilihan.

Hamid, yang sedang menjura kepada teman-teman yang masih mau berada di sampingnya.

Sebenere lagi pengen marah. Marah banget sama seseorang yang attitude nya ampun-ampunan menyebalkan tapi entah kenapa selalu bisa tak maafkan.

Kali ini pengen marah entah  keberapa kalinya. Tapi dengan ajaibnya keadaan kembali tak mengijinkan. Aku mesti berduka dulu, karena kucingku menghilang.
Oh, how lucky you are.

Sepertinya ini lagi ngetren. Penghilangan kata tanggung di depan jawab. Entah kenapa begitu, mungkin karena pada gak mau tanggung-tanggung dalam mengerjakan sesuatu, sehingga si jawab pun dihilangkan ketanggungan nya.

Jadi, jawab saja dulu, urusan tanggung ndak usah dipersoalkan. Begitu?