Arsip Tag: jakarta

Jakarta: Sebuah Teaser?

Belum lama ini, saya berkesempatan mengunjungi ibu kota. Di episode terakhir yang tidak lama itu, agak berbeda dengan biasanya. Kali ini saya datang untuk “bekerja”. Bukan urusan lain-lainnya. Hhe…

image

Pemandangan itulah kira-kira yang saya lihat dalam beberapa hari saya di Ibukota. Apa yang saya lakukan selama saya disitu? Ya ini, ya itu, macem-macem. Tapi yang jelas, bukan hal-hal penting. Hanya hal-hal kecil saja, kasih semangat ke orang-orang lain yang bekerja lebih serius dari saya misalnya.

Kerjaan yang gak seberapa lama ini mungkin menjadi teaser untuk saya kembali ke ibukota.

Lho? Kembali? Mungkin. Bisa ya, bisa tidak. Saya sangat cinta Jogja, dengan monarki dan kenyamanan hidupnya. Saya pengen banget untuk membangunnya, membuat semacam iklim yang asik di sana.

Saya cinta teman-teman saya. Saya telah memulai beberapa hal, mencoba dan kembali mencoba. Tapi terkadang, jenuh dan jengah menghampiri saya, melihat kenyataan, kalau Jogja terutama sirkel saya, jauh dari harapan saya.

Lalu akankah saya menyerah begitu saja dan kembali (lagi) ke ibukota? Bisa jadi, kita lihat saja nanti.

Hamid, yang menulis sambil geleng-geleng kepala karena Jogja agak sedikit berbeda dengan bayangan di kepalanya.

BII: Bank Inang-Inang

Kembali ke kota yang pernah dianggap fasis sempurna di salah satu tulisan berbahasa asing ini memberikan kesan tersendiri buat saya. Campur aduk macem-macem. Ada seneng, ada ruwet, ada semua lah. Di kota bernama Jakarta ini saya memang menyimpan beberapa cerita. Ah iya, saya hanya pengunjung musiman saja kali ini. Belum ada alasan atau pekerjaan lagi untuk membuat saya menetap di kota bundet yang serba ada ini.

Dari bandara kota ajaib ini — yang sebenarnya berada di kota sebelahnya, saya perlu ke sebuah daerah yang namanya mirip daerah asal tukang burjo. Saya menumpang taksi bertarif bawah. Dan duduklah saya di sebelah supir. Entah kenapa saya lebih senang duduk di depan. Hal yang tampaknya kurang lazim hingga kadang membuat beberapa supir taksi bingung.

Apakabar pak?

Dan beberapa percakapan basa-basi antara saya dan supir taksi yang bolehlah kita sebut saja Jono.

Jalanan agak biasa kali ini, tidak macet sadis. 30 sampai 45 menit perjalanan saja untuk menuju ke arah tujuan. Ndak terlalu lama. Tapi kalau diem thok ya ngakik juga. Jadilah Pak Jono dari Semarang ini saya ajak ngobrol ngalor ngidul.

Saya: Rame pak?
Jono: Yah begitulah mas, namanya bulan puasa. Kalau siang orang pada males keluar, kalau malam banyak tempat hiburan yang harus tutup.
Saya: Hari ini setoran sudah nutup?
Jono: Syukur lah mas, tinggal nyari lebihan buat dibawa pulang.
Saya: Ndak perlu ke BII dong ya?
Jono: (tertawa) kok mas e tahu BII?

Beruntung, pada suatu waktu saya pernah hampir tiap hari naik taksi. Dan hampir tiap hari juga saya ngajak ngobrol sang tukang taksi, karena tak jarang waktu bertaksi saya lumayan lama. Baik itu karena jarak, atau macet. Jadi sedikit banyak pengetahuan saya soal pertaksian ini jadi lumayan mumpuni –halah.

BII bukanlah bank nasional yang akhirnya dibeli bank luar negeri. BII adalah jargon populer diantara supir taksi, utamanya supir taksi setoran. BII kependekan dari Bank Inang-Inang, alias “bank” yang dijalankan personal, oleh orang per orang. Daerah operasi mereka tidaklah besar, paling satu pangkalan dan sekitarnya. Karena daerah operasi yang tidak besar, biasanya mereka hapal dan kenal dekat ke siapa-siapa saja yang ngutang, hingga tidak perlu menggadaikan barang ke mereka untuk mendapatkan pinjaman. Cukup dengan modal saling kenal dan percaya. Jasa yang harus dibayarkan ke BII ini memang sedikit lebih tinggi dari bank beneran. Tetapi fleksibilitas pembayaran dan kemudahan cairnya tak tertandingi! Lalu, kenapa akhirnya disebut BII? Ya karena yang menjalankan praktek ini hampir semuanya inang-inang.

Obrolan saya dengan Pak Jono melebar seru, banyak ngobrol ya ini ya itu, dan tak jarang disisipi sursol dari Pak Jono. Tak terasa sudah hampir sampai tempat tujuan saya.

Saya: Berhenti disana ya pak?
Jono: Siap! Mau ngapel ya mas?
Saya: Sembarangan! Darimana sampeyan bisa dapat kesimpulan semena-mena begitu?
Jono: Pas barusan masuk tadi saya denger obrolan masnya di telepon (sambil nyengir lebar)
Saya: Tak amini wae lah pak. Biar cepet.

Dan sayapun sampai. Kata-kata Pak Jono tadi masih terngiang. Dan tak tahu harus saya apakan. Mau diamini atau dibagemanakan…

Hamid, yang dunianya sedang terbolak-balik.

Saya dan Stereo

Tulisan soal audio ini adalah rikuwes an temen saya, mas Wednes Yuda. Sodara beliau adalah seorang perencana perjalanan profesional. Bersama sang nyonyah, sodara beliau juga berdagang coklat yang percayalah, rasanya mak nyus! Ingin tahu lebih lanjut soal sodara beliau? Seorang penggemar audio, satu diantara temen saya yang (masih) tahu siapa itu Tjandra Ghozali? Silahkan berkunjung ke blognya, atau ikuti kicauannya. Lanjutkan membaca Saya dan Stereo

Jogja, Kaefsi, Dan Inflasi

Saya tinggal di Jogja buat waktu yang lumayan lama, mulai dari Kotamadya nya yang sekarang berubah jadi Kota yang sudah kehilangan embel-embel madyanya. Mulai dari nyaman bersepeda atau bermotoran di jalan, sampe sekarang, yah begitulah.

Sepertinya belum lama saya melihat rombongan pesepeda dari Bantul menuju Kota Jogja di pagi hari, dan sebaliknya di sore hari. Belum lama juga, saya diajak ibuk buat nyoba bis kota jalur 11 yang lewat depan rumah lama kami dulu, hanya untuk jalan-jalan dan kembali ke tempat yang sama. Sepertinya, belum lama juga saya nggumun –heran– dengan moda transportasi bernama taksi. Yang menggunakan mobil Ford Laser, mobil yang sungguh wow kala itu. Ademp! Ada AC nya! Ndak kayak Fiat 1100D punya bapak saya itu. Yang meskipun ada AC nya, tapi kependekan dari Angin Cendela.

Sepertinya belum lama juga, saya berada di kota yang adem. Tidak sepanas ini. Jalan-jalan masih terasa lebar. Dan kota ini sungguh mahsyur dengan biaya hidup rendah. Kebanyakan orang tidak bisa menjadi kaya di kota ini. Meskipun tidak perlu keluar uang banyak untuk sebuah apa yang disebut hidup layak.

KFC, adalah restoran ayam goreng yang sungguh mewah. Prestis. Makhal. Setidaknya bagi ukuran saya dan keluarga saya. Makan di tempat ini bisa jadi tiga atau empat kali lebih makhal dari makan di tempat biasa. Lanjutkan membaca Jogja, Kaefsi, Dan Inflasi

Satu Tahun

Harusnya hari ini satu tahun di ibukota sih. 20 Desember tahun lalu, saya diajak buat bantu-bantu #kepalasuku di sebuah perusahaan hape.

Tapi, ternyata, gak sampe satu tahun saya bekerja di situ. Dan sekarang balik lagi ke nDesa, membantu Den Mas Lantip. Membantu apa? Anggaplah nanam jagung, dianggap begitu saja lah. Saya juga ndak keberatan kok. Hepi malah. Hihihi.

Jadi, di Jakarta, ibu kota endonesa ngapain wae? Ya banyak lah. ya ini ya itu. Ya kerja, ya magabut, ya main. Agak beribet buat diceritakan. Happy? Somewhat. Ketemu banyak orang baik, teman, keluarga, sampek tetangga di sana. Gak happynya cuma berat diongkos. :mrgreen:

Eniwei, minta doanya ya temans, semoga hidup saya tansah barokah šŸ™‚

Sebelas

Sebelas bulan, waktu yang bisa dibilang lama, kurang sak encritan sudah bisa disebut satu tahun.

Sebelas bulan, saya melihat kumpeni tempat saya bekerja berkembang dengan lumayan. Ā Hampir tiap hari ada perekrutan karyawan baru di tempat saya bekerja, hingga mulai banyak orang-orang baru, yang mulai tidak kenal satu sama lain. Kumpeni yang waktu saya datang pertama kali gak begitu jauh beda dengan ruko, sekarang sudah mulai membangun gedung baru yang jauh lebih luas.

Sebelas bulan, saya numpang hidup (lagi) di Jakarta, bertemu banyak teman baru, maupun bertemu teman lama (lagi). Berbagi cerita seneng maupun susah, yang tak jarang membuat tertawa, meringis, dan kadang hampir menangis.

Matur nuwun, Jakarta! Sampeyan memang gila…

Kedutaan, Jalan Kaki, dan Jalan Aspal

Malam Minggu, dua harian yang lalu, cukup cerah, dan daripada menjadi gila pelan pelan, saya putuskan sahaja pergi ke keramaian kota, karena sekalian ada urusan disana.

Urusan pertama saya adalah ke sebuah kantor di bilangan Gambir, sekitaran Monumen Nasional. Urusan yang simpel, dan gak butuh waktu terlalu lama. Hanya sekitar setengah jam saya berurusan di situ. Selesai urusan, saatnya sedikit represing barengĀ Oom iniĀ di bilangan Sudirman. Mayan jauh, tapi toh ada transportasi ala Jakarta bernama transjakarta atau orang sering bilang busway.

Dari arah tempat urusan saya tadi, saya mesti berjalan kaki kurang lebih satu kilometer ke shelter busway terdekat. Jadilah saya berjalan kaki di Jakarta. Trotoar jelek, galian, parkir sembarangan, sebut sajalah. Sudah #biyasa saya hadapi. Lanjutkan membaca Kedutaan, Jalan Kaki, dan Jalan Aspal

Musim Hujan

Jakarta sudah mulai musim hujan lagi, mengingatkan saya akan bermulanya salah satu potongan kehidupan saya. Kehdupan yang yah… Kek rujak lah, macem-macem, gak begitu jelas, tapi dengan adanya bumbu-bumbu yang kebetulan tepat, bisa juga dibilang cukup enak.

Saya datang ke Jakarta raya ini untuk kembali menjadi pekerja saat musim hujan, hampir setahun yang lalu. Orang iniĀ adalah orang yang paling bertanggung jawab atas datangnya saya ke ibukota Indonesia ini (lagi).

Gak terasa, musim hujan sudah datang lagi, dan itu berartiĀ sudah berbulan-bulan hampir setahun, saya kerja di sini. Kerja di sebuah pojok Jakarta. Yang kalau kata salah seorang teman saya, kalau dilepas disini pun dia gak bisa pulang lagi. :mrgreen:

Dan lalu, saya dipanggil pulang oleh orang ini, untuk menjadi tandem sodara beliau lagi di kota kelahiran saya.

Dan lalu, saya pun bersiap, menyiapkan hati hati dan perasaan, untuk pulang. Yang ternyata tidak mudah, mempersiapkan diri untuk meninggalkan beberapa fragmen kehidupan saya yang terlanjur terbentuk di sini.

Ah iya, saya paling gak bisa packing šŸ˜†

Cerita Dari Pojok Jakarta

Sementara saya menulis ini, ada garis mati nulis manual buat anak-anak marketing kumpeni yang sungguh unyu bin kemampleng itu. Dan, meja sebelah muter musik 8 bit khas Mario Bros.

Yah kira-kira begitulah keadaan saya, sebagai pekerja rata-rata Jakarta. Bedanya, saya gak berada di gedung tinggi, tapi di salah satu pojok Kota Jakarta. Sunter namanya. Jakarta yang sekali lagi ndak ada Jakarta Jakartane blass.

Kok betah sih di Jakarta? Kalau aku sih sudah amit-amit ogah hidup di Jakarta. Macet, apa-apa mahal, kadang banjir, orang-orangnya gak asik. — Tanya seorang teman saya.

Mau maunya sih jadi pekerja? kalau saya sih ogah jadi pekerja, cuma nambah kaya pemilik perusahaan, hari Senin selalu hectic, waktunya terikat, gak bebas, yada yada yada — Tanya seorang teman saya yang lain.

Entahlah, pertanyaan pertanyaan itu kadang saya pikir semacamĀ ofensif. Secara gak langsung seperti pada bilang, your life sucks, mendingan hidup saya. Kira kiraĀ begitulah esensi yang saya tangkap dari batin tersensi saya.

Dan sayapun cuma bisa bilang, kepada orang-orang yang bahkan sebagian gak memberi saya makan itu…

Bot abote wong golek pangan mas…

Jadi, Bagaimana Hidup?

Harusnya, pengen bilang How’s life. Tapi keliatane kok keminggris ya? Jadilah diIndonesiakan. Mau bilang, jadi bagaimana kehidupan kok rasanya terlalu serius. Jadi, halah munyer. Begitulah akhirnya saya menjuduli posting ini.

Si hidup ini baik baik saja, ada sedikit badai dalam kehidupan, biasa lah. Terombang ambing sana-sini, ndak masyalah. Kalau seorang temen lama saya bilang, kalau nggak terombang ambing, hidup rasanya kurang nyeni.

Delapan bulan di ibukota Indonesia (lagi). Hati saya terbagi. Sebagian fragmen hati saya berada di Jogja bersama keluarga dan teman-teman baik saya. Dan sebagian fragmen hati saya berada di Jakarta, ibukota Indonesia bersama pekerjaan, angan-angan dan orang-orang baik yang banyak membantu saya.

Jadi, bagaimana hidup? Baik baik saja. Bagaimana hati dan pikiran? Itu yang saya juga tidak tahu…