Arsip Tag: jakarta

Sesimpel Alhamdulillah

Beberapa waktu yang lalu, saya naik taksi. Dan seperti biasanya, sedikit basa basi sama supir taksinya, sudah berapa lama, hari ini sudah ngangkut berapa, dan seterusnya dan seterusnya.

Ketika sampe di tempat tujuan, ongkos saya bayar, dan ada lebihan beberapa ribu rupiah, dan saya bilang, sudahlah Pak, bawa saja buat ngopi-ngopi. Di luar dugaan saya, supir taksi itu berujar

Alhamdulillah…

Dengan sangat tulusnya. Salah satu ucapan tertulus yang pernah saya dengar.

Hal itu seperti memberikan saya sebuah oase di tengah padang gersang bin gila bernama Jakarta. Yang orang orang bilang, serba keras, serba gak nyaman, dan serba penuh kerakusan…

Sekaligus, ucapan itu bagaikan menampar saya langsung, to the point kalau orang-orang kelas menengah yang #keminggris bilang. Ucapan itu membuat saya bertanya-tanya. Sudahkah saya cukup bersyukur atas apa yang saya dapat? Atau malah saya malah menjadi makin rakus dan ingin mendapatkan lebih lebih dan lebih lagi.

Sesimpel ucapan alhamdulillah, bisa membuat hati saya tenang dan adem, sekaligus menampar saya langsung…

Soal Pilihan dan Kemampuan

Beberapa waktu yang lalu, saya dan #kepalasuku ngobrol-ngobrol soal civilization. Agak aneh memang ketika enginear — ya enginear, nearly engineer — seperti kami ngomongken soal hal yang sangat sosial macam peradaban ini. Soal nyambung atau enggaknya, bermutu atau enggaknya itu urusan belakangan. Ya namanya obrolan pelepas suntuk, bukan kuliah. Hihihi.

Entah kesambet apa, kami sampai pada bahasan teori Arnold J. Toynbee soal challenge and response. Kurang lebihnya di teori itu dijelaskan, kalau peradaban berkembang karena merespon tantangan-tantangan atau kesulitan. Di Sumeria misalnya, karena siklus banjir, jadilah mereka menemukan irigasi. Atau di Indonesia sendiri, di Pulau Jawa, teknik bercocok tanam sedikit lebih maju daripada di pulau yang kaya sumber daya alam seperti Kalimantan atau Papua misalnya.

Lalu, sampailah kami pada kesimpulan. Kita, selalu mempunyai pilihan untuk pindah ketempat yang lebih nyaman, menghindari tantangan, dan membiarkan orang lain melakukannya, atau berpartisipasi dalam menjawab tantangan. Setiap orang mempunyai situasi dan kemampuan berbeda-beda. Itu yang perlu ditekankan. Kata-kata siapa suruh datang ke Jakarta, ataupun: sudah, balik kampung saja tanam jagung itu seharusnya tidak terucap karena setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri-sendiri, dan tentunya bisa mengukur kemauan dan kemampuannya sendiri-sendiri.

Jakarta Keras Bung!

DSC00086

 

Foto ini adalah foto rumah tetangga yang mau dijual.

Satu rumah, berapa agen properti dan berapa broker tu yang masang coba? Apa gak bikin berantem tuh?

Dan, seandainya rumah ini ada yang tertarik. Menghubungi yang mana coba? Berapa pula itu kemungkinan si broker rumah memenangkan persaingan dengan broker lain. Jakarta keras bung! :))

Right Or Wrong, This Is My Decision

Sepertinya sombyong dan keras kepala banget ya? Ndak papa lah, memang adanya begitu. Dan keputusan ini membawa resiko juga. #ibunegara yang kesel setengah mati, satu dua teman yang bilang guoblok. Dan hati kecil saya yang kadang berkhianat 😆

Oke, akhirnya saya memutuskan mengambil sebuah jalan di persimpangan ruwet saya. Saya memutuskan untuk sementara tetap stay di kumpeni lama dulu, dengan segala resikonya. Memang, beberapa rekues saya belum mendapat tanggapan dari #pabos. Entah itu ditolak, diterima, atau dinego. Dan jujur, itu agak sedikit ngeselin. Tapi ada hal yang membuat saya merasa harus tetap berada disini untuk sementara waktu.

Yang pertama. Selama saya di hire, saya belum menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat langsung, tampak nyata, dan bukan sekedar semacam apa ya namanya? Fundamental, atau pondasi mungkin. Dan somewhat unethical kan kalau saya pergi sebelum menyelesaikan apa yang saya kerjakan.

Yang kedua, entah kenapa saya merasa cukup nyaman dengan lingkungan kerja disini. Di Sunter yang nun jauh ini, yang kalau orang bilang ndak ada Jakarta Jakartanya blas. Dengan ejekan #kepalasuku soal kawin, Sony yang selalu ngompori ikutan dia ngegame di facebook, dan ngolok-olok Yusin dengan penjaga warteg deket kumpeni itu.

DSC00083

Last but not least. Selama saya kerja boleh sendalan dan kaosan, I’ll be OK kok. #wahihi

Simpang Ruwet

simpangOkek, sudah beberapa bulan cari penghidupan di kota yang bernama Jakarta. Dan menurut kontrak saya, bulan ini sudah selesai tuh kontrak. Selanjutnya?

Entahlah, ada beberapa pilihan yang bisa saya ambil. Dan beberapa pilihan ini tak semudah kelihatannya untuk saya ambil. Semua mempunyai konsekuensinya masing-masing. Dan saya harus siap menanggung dampak dari pilihan saya.

Mungkin ini masa-masa dimana saya bener-bener galau. Bukan cuma branding (halah). Pilihan-pilihan sulit mulai berdatangan. Apa saya akan tetap di kumpeni yang sekarang, mulai menimbang beberapa tawaran, atau balik kampung tanam jagung 😆

Pilihan pertama, tetap di kumpeni sekarang. Kumpeni yang super lucu dengan teman-teman yang lucu pula. Dan selalu saja ada bahan buat bikin tertawa. Mulai dari #pabos owner yang super lucu, yang barusan beli mobil seharga milyaran tapi tetep down to earth. —  Saking down to earth nya sampe sering ngutip rokok saya #wahihi. OB yang super lucu dan gak pandang bulu – bahkan #kepalasuku pernah dimarahin loh sama OB ini, sampe pada sotoy-sotoynya #pabos MO yang sekilas mirip Pak Taka sinetron OB itu. Ah, kumpeni ini terlalu lucu untuk ditinggalkan…

Selanjutnya, ada pilihan menimbang tawaran dari beberapa teman. Memang, pilihan ini menjanjikan pendapatan yang lebih baik. Ada yang menawarkan bahkan sampe dobel dari yang saya dapat sekarang. Meskipun money isn’t everything, but it’s a thing rite? *mrenges*

Dan pilihan terakhir, saya balik ke Jogja, balik lagi dengan teman-teman yang super menyenangkan. Tapi, itu berarti ngere lagi. Meskipun sangat-sangat menyenangkan, tapi kalau saya pilih ini, saya jadi pengangguran entah sampai kapan. Karena di kota yang saya cintai ini, belum ada juga sesuatu yang tampak memberikan saya pendapatan. Kembang-kempis kawan!

Jadi mesti bijimana ini?

Annoying Bank

– Selamat pagi Pak, saya … dari BCA. Ingin meminta tambahan referensi saudara Bapak di Jakarta yang punya telpon tetap.

+ Wah ndak punya Mas (saya jawab begitu karena ndak mau merepotkan orang)

– Kalau begitu permohonan kartu kredit Bapak tidak bisa kami proses.

+ …

Oke, beberapa hari yang lalu, saya dikejar-kejar sales kartu kredit untuk membuat kartu kredit ditempat dia bekerja. Bank tempat saya menerima so called gaji, dan melakukan lebih dari setengah transaksi keuangan saya –yang meskipun tidak seberapa. Karena saya risih, akhirnya saya iyakan saja tawaran dia, dan mengisi formulir aplikasi.

Dan, horror pun dimulai dari sini. Beberapa hari setelah itu, dengan annoyingnya dia menelepon teman saya yang saya isi jadi referensi di aplikasi kartu tersebut. – saya isi karena sebuah keharusan. Sedikit “terpaksa” dan dalam rangka mengiyakan orang kredit tersebut. Istilahnya biar cepet. Pertanyaan-pertanyaan rese dan kurang tahu adat pun dilontarkan, mulai dari berapa lama kenal sampai gaji dan THP saya. Duh! Meskipun saya sudah ijin sama teman saya tersebut, ya tetep lah saya jadi gak enak ati.

Terror si tukang kartu ini gak berhenti sampai disitu, beberapa hari kemudian, dia pun nelpon bagian HRD tempat saya kerja. Tanya berapa lama saya kerja disitu, dan –sekali lagi— berapa gaji, total THP, dan berbagai macam detil saya. Bener-bener bikin saya emosi, dan gak enak hati sama anak HRD tempat saya kerja. Karena pertanyaannya kurang lebih seribet polisi yang nyari info buronan 😆

Kurang lebih seminggu kemudian, yaitu tadi siang, saya mendapatkan telpon yang cukup “WTF” itu tadi. For God sake, permohonan! Dan diucapkan dengan nada jual mahal. Kek saya ini desperately need that credit card.

Oke BCA, sampeyan bener-bener bikin saya emosi kali ini. Yang maksa maksa bikin kartu siapa, yang gengges bin annoying siapa, dan akhirnya yang jual mahal dan terkesan merendahkan siapa. Kalian jualan produk pinjaman, yang saya sendiri gak tahu bakal berapa limitnya – sepertinya tidak mungkin besar, dan ganggu nya setengah mampus.

Niat nawarin gak sih? Dan kanapa bagian datamining kalian oksimoron sekali? Bukankah gaji saya juga di transfer lewat bank kalian? Banyak transaksi saya mulai dari beli kopi sampai bayar ini itu juga lewat kalian? Dan permohonan?

we te ep lah!

Yang Penting Arief Sehat

A: Halo. Sudah dibeli vitaminnya?
B: … (suara di telepon tidak terdengar)
A: Gak papa, yang penting Arief sehat, Arief pinter…

Dialog itu saya dengar di tukang nasi goreng langganan saya kira-kira habis Isya’ tadi. Pekerja proyek bangunan yang tidak jauh dari situ menyempatkan menelepon istrinya di Pemalang untuk bertanya keadaan anaknya disela-sela istirahatnya (ya, dia masih bekerja. Ini tanggal merah, dan besok hari Minggu). :’)

Sunter Hari Ini

Daerah tempat saya ini sering diolok-olok sama temen-temen saya sebagai jakarta coret. Jakarta yang bukan Jakarta. Gak ada busway, mall gedhe, banjir dan macet parah. Tapi, ada yang sedikit berbeda hari ini:

DSC00066

Sunter macet sodara-sodara! Suatu hal yang agak kurang lazim. Istilahnya ajaib! Dan btw, kunci kamar saya ketinggalan di tempat kerja. #hadeh