Arsip Tag: realistis

Berita Buruk Untuk Penyampai Berita Buruk

Sebenere ndak tahu judul itu pas atau ndak. Tapi daripada ndak nulis nulis, jadilah saya memilih judul itu. Soal tepatnya? Ya entah.

Saya sebenere cuma mau curhat dan ngomongin soal, kenapa sih budaya asal sampeyan seneng –beberapa orang, terutama yang tua tua juga menyebutnya dengan asal bapak senang– ini menjamur kronis? Padahal ini sebenarnya tidak bagus buat si bapak –bisa juga ibu, tante, om, mas mbak atau apapun, simplifikasi saja– itu sendiri? Dan cilakanya, kalau si bapak itu pengambil keputusan, akan berimbas ke tempat dimana beliau diharapkan mengambil keputusan.

Lha mau bagaimana lagi? Bukannya kebanyakan kita lebih senang yang bagus-bagus? Berita bagus apalagi afirmatif selalu lebih menyenangkan untuk didengar. Sedang kepada berita buruk, seringkali arogansi dan ego kita mengambil alih. Dengan sekuat tenaga akan menyangkalnya.

Sering terjadi pada saya juga
Hal begini, sering terjadi pada saya juga. Ketika saya dipercayai pekerjaan, yang dengan segala keterbatasan analisa dan pemrosesan otak saya, mengatakan itu tidak atau belum mungkin.

Mas, tolong dibikinkan begini begini begini, supaya nanti bisa begini begini, anggarannya sepuluh ribu termasuk fee sampeyan

Beberapa hari kemudian, saya datang dengan jawaban…

Ini tidak mungkin dijalankan dengan hasil seperti yang dikehendaki karena begini begini pak. Daripada rugi sepuluh ribu, mending kita pakai cara lain, atau kita tunda. Soal fee saya, saya manut saja

Alih-alih dapat bayaran buat sekedar ganti bensin sama jam-jam saya kurang tidur, seringkali saya malah mendapat jawaban

Bilang saja kalau tidak mampu, saya akan cari orang lain yang lebih bisa diandalkan dari sampeyan

Meskipun akhirnya pekerjaan itu dijalankan orang lain yang bilang bisa dan bisa, dan seringkali saya benar, kalau ujung-ujungnya akan gagal, sekali lagi ego membuat mereka tidak datang lagi pada saya. Mungkin, tidak pernah datang lagi malah.

Dan sayapun masih laper, dan mereka rugi. Lebih banyak dibanding ngasih duit pada sontoloyo pembawa berita buruk ini.

Hamid, yang baru sadar kalau berita buruk adalah berita bagus, hanya berlaku di tukang berita.