Arsip Tag: teman

Dua

They treat you like a shit Mid. Terima aja.

Begitulah kata seorang teman kepada saya suatu waktu. Dengan sedikit prasangka baik, saya membela apa yang dia maksud dengan they.

“Ah, mungkin mereka lagi sibuk saja”, kata saya. “Toh tangan dan kaki mereka cuma dua, ndak bisa sekaligus di banyak tempat untuk ngurusin ini itu”, lanjut saya lagi.

“Iya, tangan dan kaki mereka cuma dua, tapi apa iya jumlah jam dalam hari mereka cuma dua, sampai segitunya gak ada waktu buat bertemu kamu sebagai temannya?”, kata si teman itu dengan nada datar. “Itu juga kalau kamu masih dianggap teman sama mereka”, lanjutnya tanpa ampun.

“People will avoid shit, not friend. Terima aja kamu dianggap gitu. Dianggap sampah bagi mereka. Kotor, bau, dan mengganggu”, lanjut si kawan ini. Dengan tanpa ampun dia menghajar sudut pandang saya.

“Tapi kan, mereka teman-te…”, kata saya tak selesai. Saya tak berani melanjutkan. Dan kami pun terdiam. Sementara otak saya berpikir keras mencari bahan untuk sekedar mengganti topik pembicaraan…

Semacam Surat Terbuka Juga

Sepertinya beberapa waktu ini lagi ngetren pada bikin surat terbuka ya? Ada yang buat capres, ada yang buat pemilik media, ada yang buat siapalah itu lagi. Demi mengikuti tren saya juga akan membuat semacam surat terbuka juga. Istilahnya biar ngeheits.

Saya tidak akan membuat surat terbuka buat capres atau timsesnya? Disamping saya sedikit apatis soal capres-capresan hingga memilih untuk tidak berpartisipasi aktif di perkara ini, saya juga ragu, kalau saya bikin surat terbuka semacam ini bakal dibaca oleh sesiapa –kata apa lagi ini–  yang saya tuju. Jadilah saya mau bikin semacam surat terbuka ini buat teman-teman saya saja. Ada yang mau baca sukur, ndak ya wes lah. Setidaknya tujuan surat saya ini tak muluk. Lanjutkan membaca Semacam Surat Terbuka Juga

Masalah Miskin

image
foto: mas jun / rasarab

Stiker angkot yang dijepret Mas Jun dari Iqbal Rasarab ini sungguh sangat menguatkan hati, dan sungguh mak jleb buat saya. Kata-kata sederhana, tapi dalem banget maknanya buat saya.

Tahun-tahun belakangan ini, hidup saya boleh dibilang fucked up. Ada wae perihal yang kurang mengenakkan, yang membuat saya hampir menangis. Menangis karena apa? Sepertinya stiker angkot tadi cukup bisa menggambarkan keadaan saya.

Saya tidak akan menangis, hanya karena miskin

Tidak tidak, saya tidak akan menangis, hanya karena menjadi miskin. Toh miskin itu relatif. Bagi orang sekaya Setiawan Djody, mungkin saya miskin, tapi saya termasuk beruntung bagi teman-teman yang tinggal di rumah kardus yang sewaktu-waktu bisa terbakar, atau digusur.

Saya akan menangis, bila kemiskinan saya ini mulai mengganggu. Mengganggu teman-teman baik saya terutama. Yang karena keadaan saya, saya menjadi gak asik, menjadi merepotkan, atau mungkin bagi beberapa, memalukan.

Teman-temanku, kuharap kalian mau memaafkan aku dan kemiskinanku. Kuharap kalian sabar bersamaku. Aku berjanji akan berusaha lebih keras lagi untuk menaikkan harkat diri hingga tak merepotkan atau memalukan kalian lagi.

Perkara Rindu

Iya, saya sedang rindu. Rindu akan sesuatu. Sayangnya, kali ini lagi-lagi bukan soal seseorang.

Saya rindu teman-teman. Sederhana saja. Saya rindu ngumpul. Bertemu teman-teman. Ngomongin hal remeh temen nan tidak penting. Bukan ngomongin hal yang serius, tentang pencapaian, pekerjaan, ketidakcocokan, atau tentang kekaguman terhadap seseorang. Yang seringkali, sayapun tidak tahu atau tidak mau tahu siapa dia.

Ah iya. Saya juga rindu bertemu teman. Benar benar bertemu. Bukan kebetulan bertemu meski pakek janjian. Pertemuan macam apa itu ketika semua pegang gadgetnya masing masing ataupun (tetep) ngobrol soal hal onlen onlenan? Mending dirumah saja ngobrol onlen, messengeran, socmedan, atau imel imelan.

Ini Aku, Dan Itu Teman-Temanku

Hae, kamu sudah tahu aku cukup lama kan?

Iya, ini aku, dan itu teman-temanku. Sama ndak jelasnya sama aku. Sebagian, ndak jauh beda kerenya sama aku. Pun sebelas duabelas wagunya sama aku. Kalaupun ada satu dua yang sedikit melek, mungkin mereka khilaf, atau terlalu iseng saja.

Aku dan teman-temanku yang wagu itu, hampir ndak ada yang terkenal, ndak ada yang luar biasa dari mereka terutama kalau sudah ngomongin prestasi yang sering menjadi acuan.

Kamu selalu boleh kok untuk sedikit alergi sama aku dan teman-temanku yang wagu itu. Selalu boleh menjadikan aku dan teman-temanku prioritas terakhir yang baru diingat dan didatangi kalau tak ada pilihan lain lagi.

Hidup itu pilihan bukan? Aku tidak bisa memaksakan aku dan teman-teman waguku untuk selalu kamu tengok atau kamu pedulikan. Apalagi ketika kamu masih punya belasan pilihan.

Hamid, yang sedang menjura kepada teman-teman yang masih mau berada di sampingnya.

Musim Hujan

Jakarta sudah mulai musim hujan lagi, mengingatkan saya akan bermulanya salah satu potongan kehidupan saya. Kehdupan yang yah… Kek rujak lah, macem-macem, gak begitu jelas, tapi dengan adanya bumbu-bumbu yang kebetulan tepat, bisa juga dibilang cukup enak.

Saya datang ke Jakarta raya ini untuk kembali menjadi pekerja saat musim hujan, hampir setahun yang lalu. Orang ini adalah orang yang paling bertanggung jawab atas datangnya saya ke ibukota Indonesia ini (lagi).

Gak terasa, musim hujan sudah datang lagi, dan itu berarti sudah berbulan-bulan hampir setahun, saya kerja di sini. Kerja di sebuah pojok Jakarta. Yang kalau kata salah seorang teman saya, kalau dilepas disini pun dia gak bisa pulang lagi. :mrgreen:

Dan lalu, saya dipanggil pulang oleh orang ini, untuk menjadi tandem sodara beliau lagi di kota kelahiran saya.

Dan lalu, saya pun bersiap, menyiapkan hati hati dan perasaan, untuk pulang. Yang ternyata tidak mudah, mempersiapkan diri untuk meninggalkan beberapa fragmen kehidupan saya yang terlanjur terbentuk di sini.

Ah iya, saya paling gak bisa packing 😆

Apa Yang Mereka Bilang Itu Benar

Pernah gak terganggu, dengan orang yang membicarakan (seringnya) hal yang kurang baik dibelakang kita. Dibilang begini, begitu atau bagaimanalah. Mungkin sampeyan termasuk orang yang beruntung, atau mungkin memang bener-bener orang baik kalau tidak pernah.

Berbeda dengan saya, saya yakin, kalau sekali dua kali orang membicarakan saya dibelakang saya. Dan pastinya ada yang menurut common sense itu kurang baik.

Kesel, marah atau apapun, ketika orang lain berubah pandangan sehabis pembicaraan itu, wajar. Tapi balik lagi saya sadari. Seburuk apapun orang bilang tentang saya, ada sebagian yang pastinya benar. Denial adalah hal pertama yang terpikirkan oleh saya. Sekaligus, hal itu adalah hal yang paling mudah bisa saya lakukan. Tapi…

Hey, pada dasarnya mereka itu benar, hanya mungkin sedikit ditambah bumbu khas pergunjingan, sentimen dan miskomunikasi. Dan jadilah seperti apa yang mereka bilang. Dan, sekali lagi saya bilang, pada dasarnya…

Apa yang mereka bilang itu benar.

Cuma, kembali ke pilihan sampeyan, mau langsung percaya haqul yakin, atau bertanya dulu kepada saya, apa iya dan kenapa bisa begitu.

Hamid, karena batas free speech dan hate speech itu lebih tipis dari kelambu #melantip

Warna Warni

Saya adalah orang orang yang termasuk beruntung. Saya punya cukup banyak teman yang berwarna warni, datang dari berbagai latar belakang. Mulai dari yang pol mentok bawah sampai yang bisa dibilang berada. Saya kenal orang yang tinggal di kontrakan petak dengan rumah kayu, dan entah kenapa pula bisa kenal sama orang yang mampu beli piaraan seharga mobil bekas, earn more than I can imagine to spend.

Teman teman yang berwarna warni itu, bener-bener memberikan banyak insight pada kehidupan saya. Dan saya bisa bilang, itu adalah salah satu hal yang paling berharga yang diberikan Tuhan sama saya. Saya bisa melihat ke bawah untuk bersyukur, dan kadang melihat ke atas untuk menyemangati hidup.

Once upon a time, I am somebody, sampai Tuhan menjadikan saya nobody. Pelan-pelan mulai merangkak lagi, dan jatuh lagi. Sekarang? Sedang mencoba untuk merangkak lagi. Dan teman-teman anugerah Tuhanku itu benar-benar terasa sebagai sesuatu yang sangat berharga. Teman-teman saya yang berwarna warni ini pula lah yang membuat saya cukup kuat untuk bertahan dari cobaan yang sepertinya agak terlalu berat bagi saya.

Buat teman-temanku yang (mungkin) membaca ini. Makasih ya? Gak kebayang apa jadinya saya tanpa kalian. :’)