Arsip Tag: worklife

Sebelas

Sebelas bulan, waktu yang bisa dibilang lama, kurang sak encritan sudah bisa disebut satu tahun.

Sebelas bulan, saya melihat kumpeni tempat saya bekerja berkembang dengan lumayan.  Hampir tiap hari ada perekrutan karyawan baru di tempat saya bekerja, hingga mulai banyak orang-orang baru, yang mulai tidak kenal satu sama lain. Kumpeni yang waktu saya datang pertama kali gak begitu jauh beda dengan ruko, sekarang sudah mulai membangun gedung baru yang jauh lebih luas.

Sebelas bulan, saya numpang hidup (lagi) di Jakarta, bertemu banyak teman baru, maupun bertemu teman lama (lagi). Berbagi cerita seneng maupun susah, yang tak jarang membuat tertawa, meringis, dan kadang hampir menangis.

Matur nuwun, Jakarta! Sampeyan memang gila…

Enam Bulan

Enam bulan itu, waktu yang lumayan lama. Dengan menterengnya kita bisa juga menyebut si enam bulan ini dengan setengah tahun. Dan inilah yang terjadi pada saya, kira kira enam bulan lalu…

Enam bulan lalu, saya balik lagi ke ibu kota, dengan keadaan yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Enam bulan lalu, saya bikin seorang teman lama menganga karena keputusan saya.
Enam bulan lalu, saya mereboot hidup saya, menjadi seorang pekerja rata rata.

Selamat setengah tahun jadi kelas pekerja!

Sombong Tanggung

Beberapa waktu yang lalu, saya ditawari pekerjaan di sebuah tempat yang mayan keren sama temen saya. Tapi kali ini, harus pakek surat menyurat yang saya gak pernah bisa. Hihihi.

Karena teman saya yang nawari ini salah satu teman baik saya, jadilah saya bikin itu paperworks. Selain buat nglegani, karena teman saya itu sudah nawarin pekerjaan yang bisa dibilang keren di tempat yang lumayan keren juga. Toh juga iseng iseng berhadiah juga. Sapa tau dapat. Meskipun saya gak banyak berharap juga. karena istilahnya, yang tahu saya dan apa yang saya kerjakan cuma si teman saya itu.

Jadilah resume acakadut saya. Atas wangsit dari teman saya yang nawarin itu, saya kirimkan email ke dua orang petinggi kumpeni tersebut, dengan disertai bcc ke beberapa teman baik saya yang bisa dibilang kaum propesional muda lah.

Dan… Salah satu temen saya yang sudah cukup sukses lewat skype bilang: Bah, tanggung kali resume mu ini. Humble ala Indonesia enggak, confident dan sombong ala bule juga enggak. Lain kali kalau bikin resume yang concise macam ini, disombongin dikit lah. I know you did better than what you told.

Dan errr… Kalau dipikir pikir dia ada benarnya juga sih. Tapi gimana ya? Saya gak sampe hati buat nyombong, yet again kalau terlalu humble, nanti belakang belakangnya susah kalau mau nego sesuatu ke kumpeni.

Jadi, apa kabar resume tanggung itu? Entahlah, gak terlalu saya pikirkan juga. Dan saya masih cukup bahagia juga di kerjaan sekarang, karena saya tahu, saya bekerja bareng orang-orang baik 😀

Trus? Niat gak sih itu sama tawarannya? Eng… Lumayan sih, apalagi kalau tawarannya cucok. Let’s say, ada asuransi dan eng… Dua ribu atau tiga ribu sebulan. #ngayalbabu

Right Or Wrong, This Is My Decision

Sepertinya sombyong dan keras kepala banget ya? Ndak papa lah, memang adanya begitu. Dan keputusan ini membawa resiko juga. #ibunegara yang kesel setengah mati, satu dua teman yang bilang guoblok. Dan hati kecil saya yang kadang berkhianat 😆

Oke, akhirnya saya memutuskan mengambil sebuah jalan di persimpangan ruwet saya. Saya memutuskan untuk sementara tetap stay di kumpeni lama dulu, dengan segala resikonya. Memang, beberapa rekues saya belum mendapat tanggapan dari #pabos. Entah itu ditolak, diterima, atau dinego. Dan jujur, itu agak sedikit ngeselin. Tapi ada hal yang membuat saya merasa harus tetap berada disini untuk sementara waktu.

Yang pertama. Selama saya di hire, saya belum menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat langsung, tampak nyata, dan bukan sekedar semacam apa ya namanya? Fundamental, atau pondasi mungkin. Dan somewhat unethical kan kalau saya pergi sebelum menyelesaikan apa yang saya kerjakan.

Yang kedua, entah kenapa saya merasa cukup nyaman dengan lingkungan kerja disini. Di Sunter yang nun jauh ini, yang kalau orang bilang ndak ada Jakarta Jakartanya blas. Dengan ejekan #kepalasuku soal kawin, Sony yang selalu ngompori ikutan dia ngegame di facebook, dan ngolok-olok Yusin dengan penjaga warteg deket kumpeni itu.

DSC00083

Last but not least. Selama saya kerja boleh sendalan dan kaosan, I’ll be OK kok. #wahihi

Simpang Ruwet

simpangOkek, sudah beberapa bulan cari penghidupan di kota yang bernama Jakarta. Dan menurut kontrak saya, bulan ini sudah selesai tuh kontrak. Selanjutnya?

Entahlah, ada beberapa pilihan yang bisa saya ambil. Dan beberapa pilihan ini tak semudah kelihatannya untuk saya ambil. Semua mempunyai konsekuensinya masing-masing. Dan saya harus siap menanggung dampak dari pilihan saya.

Mungkin ini masa-masa dimana saya bener-bener galau. Bukan cuma branding (halah). Pilihan-pilihan sulit mulai berdatangan. Apa saya akan tetap di kumpeni yang sekarang, mulai menimbang beberapa tawaran, atau balik kampung tanam jagung 😆

Pilihan pertama, tetap di kumpeni sekarang. Kumpeni yang super lucu dengan teman-teman yang lucu pula. Dan selalu saja ada bahan buat bikin tertawa. Mulai dari #pabos owner yang super lucu, yang barusan beli mobil seharga milyaran tapi tetep down to earth. —  Saking down to earth nya sampe sering ngutip rokok saya #wahihi. OB yang super lucu dan gak pandang bulu – bahkan #kepalasuku pernah dimarahin loh sama OB ini, sampe pada sotoy-sotoynya #pabos MO yang sekilas mirip Pak Taka sinetron OB itu. Ah, kumpeni ini terlalu lucu untuk ditinggalkan…

Selanjutnya, ada pilihan menimbang tawaran dari beberapa teman. Memang, pilihan ini menjanjikan pendapatan yang lebih baik. Ada yang menawarkan bahkan sampe dobel dari yang saya dapat sekarang. Meskipun money isn’t everything, but it’s a thing rite? *mrenges*

Dan pilihan terakhir, saya balik ke Jogja, balik lagi dengan teman-teman yang super menyenangkan. Tapi, itu berarti ngere lagi. Meskipun sangat-sangat menyenangkan, tapi kalau saya pilih ini, saya jadi pengangguran entah sampai kapan. Karena di kota yang saya cintai ini, belum ada juga sesuatu yang tampak memberikan saya pendapatan. Kembang-kempis kawan!

Jadi mesti bijimana ini?