Kesetaraan

Gak tahu kenapa tiba-tiba pengen ngomongken soal ini. Mungkin, karena terjadi banyak hal yang semacam tidak sepantasnya, bahkan bisa dibilang setengah menipu. Ambil contoh, yang akhir-akhir ini sering terjadi di sekitar saya, soal “dagang”.

Namanya berdagang kan sah-sah saja, asal sama-sama mau. Kenapa mesti diributkan?
Nah, prinsip inilah yang menjadi awal masalah. Memang benar, asal mau sama mau, deal, selesai sudah. Gak salah memang, cuma seringkali terasa aneh ketika sampai hal kepantasan.

Misal, suatu ketika saya mendapatkan orderan untuk mengerjakan sesuatu dengan upah sepuluh ribu. Setelah itu saya lempar lagi ke teman saya. Saya bilang, ente ngerjain ini. Dua ribu mau gak? Dengan sedikit tawar menawar alot, dengan lugunya dia sepakat untuk mengerjakan kerjaan itu dengan upah tiga ribu. Saya untung tujuh ribu! Dua kali lipat lebih dari apa yang dia dapat. Simply karena dia gak tahu jalannya, gak tahu harga pasar, atau memang lagi butuh duit.

Salah? Enggak. Pantes? Itu ukurannya berbeda-beda. Tergantung tingkat ketegaan masing-masing. Barokah? Ndak tahu, itu urusan Tuhan. Bukan urusan saya.

Etis vs realistis
Di dunia yang ideal, seharusnya hal tersebut tidak terjadi. Tidak etis! Tapi bung, etis gak etis, saya realistis. Toh kalau tidak ada saya, temen saya yang tadi juga gak dapet duit. Karena ada saya, dia bisa jadi dapet duit. Suka sama suka. Itu sudah!

Iya, iya… Realistis, tapi apa ruginya sih sedikit fair? Apa itu memang sudah fair karena temen saya itu dengan tiga ribu sudah cukup, sementara saya tujuh ribu dan belum tentu cukup? Kebutuhan orang beda beda.

Iya, iya. Adil atau fair tidak berarti selalu sama rata karena kebutuhan orang beda-beda, hak dan kewajiban dan tanggung jawabnya tidak mungkin sama juga. Tapi… Yagitulah!

2 pemikiran pada “Kesetaraan

  1. Kalau menurut Saya, yang seorang pengusaha sukses, hal semacam itu tidak sip. Gampangnya, tidak paham harga komisioner (si orang pertama cuma komisioner lho, alias agen), dan tidak memikirkan bisnis jangka panjang.

    Tipe pengusaha oportunis semacam ini ya cuma pengen ngejar untung sesaat saja, yang mana nantinya bakal buntung.

    Jatah rejeki tiap orang udah pasti, kalo diambil semua di awal, yo besok2 sudah gak ada lagi to? Matematika sederhana itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *