Arsip Kategori: Et Cetera

Dua Sembilan

Sebenere sih gak ada yang mesti dituliskan ataupun dirasani hari ini. Kecuali saya lagi laper, dan hujan. Jadine saya gak bisa kemana mana buat cari makanan.

Kenapa harus posting? Karena ini hari spesial, tanggal 29 Februari. Jarang-jarang bisa begini. Penting ra penting waton posting. Yo ra?

Ya wes, gitu aja sih. Kalaupun sampeyan sampe sini dan kecewa karena ndak jelas blas postingan ini. Ini ada fotone @lantip

tarak dung cess!

 

Samting, Semoga Menjadi Something

samtingBermula dari ngobrol-ngobrol saya dengan Kangmas Lantip soal kampanye dan konten kontenan, kami pun mulai menghayal soal Indonesia dan konten di internet. Kejauhan? Ketinggian, mungkin saja. Tapi kita tidak pernah tahu kan kalau belum mencobanya?

Oke, jadi begini. Dari obrolan kami, kami mulai punya khayalan, impian atau cita-cita dengan mengajak teman-teman yang lain untuk menambah konten yang ngIndonesia di Internet. Beberapa kenalan kami memang pengguna internet yang kebetulan jadi penulis, blogger, dan (mungkin) buzzer. Dengan modal sok kenal inipun kami mulai mengidekan sesuatu bernama samting. Satu minggu satu posting.

Posting tentang apa dong? Dalam khayalan babu kami sih, dari yang berhasil kami ajak, nantinya akan banyak menulis tentang Indonesia. Apa saja, mulai dari sosial, pariwisata, teknologi, dan lain sebangsanya. Impian kami, kalau seandainya 30 juta pengguna internet itu satu permil saja, melakukan posting blog atau konten tiap minggunya, berarti kurang lebih ada 30 ribu konten baru tentang Indonesia di internet. Bayangpun! Dengan jumlah konten sebanyak itu, tentunya Indonesia bakal lebih “tampak”. Setidaknya di internet dan di mata search engine semacam google :D. Harapannya lagi sih, dengan bertambahnya penampakan di internet ini, akan banyak membawa manfaat untuk Indonesia.

Jadi. Bersediakah sodara-sodara membantu mewujudkan khayalan babu kami? Karena kami bukanlah orang terkenal, bukanlah orang-orang yang bisa mempengaruhi. Tapi yang jelas, kami punya impian dan harapan soal Indonesia. Dan mungkin baru ini yang bisa kami lakukan…

Note:
Selengkapnya soal samting ini bisa dibaca lebih lanjut di blognya Kangmas Lantip disini. Sepertinya sodara beliau lebih bisa bercerita dan menjelaskan daripada tulisan abal-abal saya ini.

Tentang Social Climber

Menurut wikipedia, social climber itu:

A social climber is someone who seeks social prominence, for example by obsequious behavior. The term is sometimes used as synonymous with parvenu, one who has suddenly risen to a higher economic status but has not gained the social acceptance of others in that class. “Social climber” may be used as an insult, suggesting a poor work ethic or disloyalty to roots.

Mungkin gampangannya semacam wannabes atau apa ya? Kira-kira pengen naek kelas dengan cara apapun. Bahkan, beberapa definisi di urban dictionary jauh lebih “blatant” dalam mendefinisikan. Lihat saja:

(n.) Similar to an “attention whore”, but a social climber is anyone that becomes friends with someone else if they have something that they want, which we all know involves people. They become ‘friends’ with people who “know people”. In turn, they become (or attempt to become) ‘friends’ with that first person’s more “popular” friends, leaving the first person behind.

Wajar gak sih seseorang itu menjadi social climber? Wajar-wajar saja, sah sah saja. Meskipun yang namanya climber pastinya menggapai yang diatasnya, dan – gak jarang juga — nginjek yang dibawah.

Pernah ketemu yang beginian? Saya pernah. Pernah jadi objek penderitanya malah. Marah? Gak lah. Disamping beberapa dari mereka sudah terlanjur jadi teman, kelakuan mereka terlihat lucu 😆