Arsip Kategori: Stories

Kelakuan Atau Keahlian

Beberapa bulan lalu, saya diminta mencarikan orang buat proyek temen saya. Dia bilang:

“Mbok saya dicarikan programmer, kualifikasinya bisa begini begini begini. Gak usah pinter-pinter gakpapa, asal attitude nya gak aneh aneh”

Permintaan teman saya itu membuat saya berpikir, sebagian orang-orang pinter itu sampai sebegitu ndak tertib nya kah? Apa karena mereka sudah merasa pinter dalam bidangnya, lalu berbuat semaunya sendiri?

Bisa jadi, saya pernah menemui beberapa orang yang sangat ahli di bidangnya, dan bisa saya bilang, orangnya “ora enak dipangan”. Kelakuannya semau sendiri, bikin gak enak ati temen satu tim, dan seterusnya dan seterusnya. Dan kelakuan yang “ora enak dipangan” itu tadi, menghambat proses kerja tim secara keseluruhan.

Hm… Bener juga kata salah seorang temen saya. Kurang lebih dia bilang:

keahlian tanpa kesantunan tidaklah elegan.

Hamid, mencoba menjadi lebih elegan *lah kok #melantip*

Sesimpel Alhamdulillah

Beberapa waktu yang lalu, saya naik taksi. Dan seperti biasanya, sedikit basa basi sama supir taksinya, sudah berapa lama, hari ini sudah ngangkut berapa, dan seterusnya dan seterusnya.

Ketika sampe di tempat tujuan, ongkos saya bayar, dan ada lebihan beberapa ribu rupiah, dan saya bilang, sudahlah Pak, bawa saja buat ngopi-ngopi. Di luar dugaan saya, supir taksi itu berujar

Alhamdulillah…

Dengan sangat tulusnya. Salah satu ucapan tertulus yang pernah saya dengar.

Hal itu seperti memberikan saya sebuah oase di tengah padang gersang bin gila bernama Jakarta. Yang orang orang bilang, serba keras, serba gak nyaman, dan serba penuh kerakusan…

Sekaligus, ucapan itu bagaikan menampar saya langsung, to the point kalau orang-orang kelas menengah yang #keminggris bilang. Ucapan itu membuat saya bertanya-tanya. Sudahkah saya cukup bersyukur atas apa yang saya dapat? Atau malah saya malah menjadi makin rakus dan ingin mendapatkan lebih lebih dan lebih lagi.

Sesimpel ucapan alhamdulillah, bisa membuat hati saya tenang dan adem, sekaligus menampar saya langsung…

Simpatik

Adalah teman saya Bagas, atau lebih sering kami panggil Djojo, Joyo, ataupun variasi tulisan lainnya, pokoknya bunyinya Joyo. Yang saya tahu sudah menjadi penggiat dan evangelist sepeda, sejak yang namanya sepedaan belum terkenal, dan menjadi hips. Joyo ini pulalah (sepanjang yang saya tahu) yang berhasil membuat Iqbal Arab bersepeda. — Iqbal ini sekarang salah satu orang yang paling rajin bersepeda yang saya tahu. Sudah menempuh rute Jogja – Solo, Magelang, Wonosobo, dan seputaran Jawa Tengah lainnya.

Adalah kesimpatikannya yang membuat Joyo ini berhasil membuat banyak orang bersepeda.Dengan tanpa koar-koar, rendah hati, dan dengan cara yang asik, dia berhasil membuat orang lain tertarik soal sepeda-sepedaan ini. Lihat saja, blog Joyo ini. Adem ayem, gak tengil meskipun benar, terbuka, dan dengan ajaibnya bisa membuat kita bilang, oh iya yah.

Tak perlu mengajak mereka bersepeda katanya. Pernyataan ini yang membuat saya berdecak kagum. Oh wow! Keren sekali pemikiran dari Joyo ini. Sangat simpatik, dan sekali lagi, saya hanya bisa bilang: Wow!

Ah, Joy, seandainya semua penggiat sepeda itu sepertimu, bukan evangelist dadakan yang antikritik. Saya tidak berniat mengadu, tapi kalau saja banyak orang lebih adem sepertimu. Dan gak menjadi arogan karena sedang menjadi mayoritas…

Jangan Pelit, Tapi Efisien

Suatu ketika, #pabos owner kumpeni tempat saya bekerja ngomel-ngomel sama bagian purchasing.

#pabos: alat ini berapa harganya?
purchasing: *menyebut angka*
#pabos: kalau yang bagus berapa?
purchasing: *menyebut angka tak kurang tiga kali lipat dari angka semula*
#pabos: mulai besok ganti semua sama yang bagus, jangan lagi beli yang itu

Dan #pabos pun memberikan pengetahuan tambahan kepada saya. Dia bilang:

Jadi gini ya, kita itu tidak boleh pelit, tapi harus efisien. Pembelian alat misalnya. Harga alat yang bagus bisa tiga atau empat kali lipat lebih mahal. Tapi dengan begitu, produktifitas kita meningkat, potensi kita bisa jauh lebih besar. Kalau dengan alat yang lebih murah produktifitas dan potensi kita menurun, selisih harga yang kita hemat diawal sama sekali tidak berguna.

#pabos ada benarnya juga. Ambil contoh, yang simpel saja, bolpen. Kita mungkin bisa beli bolpen yang katakanlah seribuan, dengan berbagai resiko macet, tinta kurang jelas, dan seterusnya dan seterusnya. Bandingkan dengan bolpen lima ribuan misalnya. Yang hampir setiap waktu lancar buat nulis, dan menghasilkan tulisan yang jelas dibaca juga. Penghematan empat ribu jadi sama sekali tidak berguna.

Gak selamanya pelit itu efisien, dan gak selamanya efisien itu pelit. #pabos owner kumpeni saya adalah WNI keturunan Cina, yang stereotipnya – tahu sendiri lah. Tapi toh dia tidak pelit untuk beberapa hal. Malah terkadang pelitan saya, atau salah satu temen saya yang dengan bangganya mengakui kalau dia pelit. Memang sih, temen saya itu kaya. Tapi sepertinya masih kayaan #pabos

Jadi #pabos, kapan saya dibeliin MBP :mrenges:

Look At The Bigger Picture

Entah bahsa #enggres yang saya pake buat judul tadi bener atau enggak. Dan nyambung sama apa yang mau saya sampaikan atau enggak. Yang jelas kata-katanya kelihatan bagus 😆

Seringkali kita sudah puas melihat satu hal, terutama kalau hal tersebut sudah membuat kita berada dalam comfort zone. Kita jadi ogah memikirkan kelanjutan atau kemungkinan-kemungkinan lain, terutama yang berpotensi mengeluarkan kita dari comfort zone.

Nikmati ajalah, selagi masih bagus, selagi masih menghasilkan.

Atau mungkin, ketika idealisme kita terbentur?

Oh, tidak bisa yang begitu itu bla bla bla… Itu tidak sesuai sama yada yada yada…

Sering banget kan kita beralasan seperti itu? Sampe kadang kita gak sadar kalau dunia berubah lebih cepat dari apa yang kita duga, dan setiap hal itu tak jarang ada something else nya. Tak jarang, jauh dari apa yang kita bayangkan.

Kalau begini-begini terus dan masih meributkan itu-itu terus, bisa habis dilibas kita.
— Mengaku bernama Ricky, seorang senior yang tampaknya bergelut di dunia iklan dan ahensi-ahensian, di sebuah warung.

Jadi, kenapa kita tidak mulai memandang segala sesuatu itu dengan lebih luas?

Yang Penting Arief Sehat

A: Halo. Sudah dibeli vitaminnya?
B: … (suara di telepon tidak terdengar)
A: Gak papa, yang penting Arief sehat, Arief pinter…

Dialog itu saya dengar di tukang nasi goreng langganan saya kira-kira habis Isya’ tadi. Pekerja proyek bangunan yang tidak jauh dari situ menyempatkan menelepon istrinya di Pemalang untuk bertanya keadaan anaknya disela-sela istirahatnya (ya, dia masih bekerja. Ini tanggal merah, dan besok hari Minggu). :’)

Perusak Pesta!

Malem libur, gak ada kerjaan. Kebetulan salah satu teman baik saya Si Thon9 sedang ada urusan juga di ibukota negara. Dia nginep gak jauh dari kosan saya.

Saya SMS, lagi dimana Thon9? Dia jawab: lagi di Kelapa Gading mas. Mau kesini? Dengan semangat 45 dan gak tahu malu saya jawab: wha lha iyes. Traktir ya?

Sekitar setengah jam-an, sampelah saya di tempat saya janjian dengan dia setelah sebelumnya sempat muter-muter dulu karena dia ngasih infone gak beres :))

Daan, inilah hasil saya malak dia. Semangkok bakso foodcourt mall di daerah Kelapa Gading. — Maaf keburu laper, jadi baru sadar kalau mesti di dokumentasikan nya waktu bakso dah hampir habis 😀

Dalam perut Hamid yang kenyang, terdapatlah hati Hamid yang senang. Dan… Sebenere agak gak enak juga, karena. Eng… Gimana ya? Bisa dibilang saya merusak pestanya Si Thon9. Karena…

DSC00020

Wahihihi. Siapa itu? No komen! Mungkin, itulah salah satu alasan Si Thon9 datang ke Jakarta. Eh, malah saya datang dengan tanpa malu memalak mereka #wahihi.

Dan, tetep belum afdhol rasanya kalau ketemu Si Thon9 belum melakukan sebuah ritual berupa… Karaoke ndang-ndhut 😀

Setelah karaoke dua jam dengan lagi-lagi tanpa tahu malu dan suara yang fals ancur lebur, kami pun memutuskan untuk pulang karena besok Si Mbaknya mesti bekerja. Mesti terbang ke Bengkulu kalau ndak salah. Si mbaknya pulang ke sekitaran Cengkareng, dan si Thon9 pulang ke tempat tantenya. Iya, tantenya yang **** itu.

Dengan dijemput tantenya, Si Thon9 pulang. Dan saya pun nebeng sampe sedekat mungkin dengan kosan buat ngirit ongkos taksi karena arah kami (hampir) sejalan. Eh ternyata malah dianter sampe kosan sama tantenya Si Thon9. kalau memang rejeki gak bakal kemana memang #wahihi

Buat Si Thon9, Si Mbaknya, dan Tantenya Thon9, makasi banyak yaaa 😀